Restu Akbari Desak Pemerintah Dan Pihak Kepolisian Menindak Tegas Pelaku Kericuhan - Media Berita HARIANKARANG.COM

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Rabu, 26 November 2025

Restu Akbari Desak Pemerintah Dan Pihak Kepolisian Menindak Tegas Pelaku Kericuhan


Pesisir Barat -
Acara orgen tunggal atau orkes di Kabupaten Pesisir Barat telah lama menjadi bagian dari budaya hiburan, namun keberadaannya terus diiringi pro dan kontra, sering kali berubah dari ruang kegembiraan menjadi arena yang berujung pada kekerasan.Rabu, 26/11/2025.


Insiden keributan yang terjadi pada Rabu malam, 25 November 2025, di Pekon Biha saat acara orgen berlangsung, kembali memicu perdebatan sengit di tengah masyarakat. Sebagian meresponsnya sebagai 'lelucon' semata, namun banyak pula yang melihatnya dengan kegeraman dan keprihatinan mendalam.


​Dampak dan Kegelisahan Kaum Muda NU

​Insiden ini bukan kali pertama. Sekitar satu tahun lalu, Kabupaten Pesisir Barat juga diguncang kasus serupa yang bahkan merenggut satu korban jiwa—kasus yang baru-baru ini berhasil diungkap oleh pihak kepolisian.



Rentetan peristiwa ini menimbulkan keresahan, terutama di kalangan kader muda Nahdlatul Ulama (NU), yang melihatnya sebagai sebuah kontradiksi besar dengan identitas daerah.


​Restu Akbari, seorang kader muda Nahdlatul Ulama, menegaskan bahwa keributan ini bukanlah persoalan sederhana. Ia menyampaikan keprihatinan mendalam:

​"Miris dan berlawanan dengan slogan 'Negeri Para Sai Batin dan Ulama'. Di lokasi kejadian, terdapat banyak anak-anak di bawah umur dan remaja yang disuguhi tontonan yang sangat tidak pantas. Sedari kecil mereka menyaksikan kekerasan. Saya berharap pihak pemerintahan daerah Pesisir Barat jangan menjadikan ini sebagai bentuk kewajaran."

​Tantangan Terhadap Slogan dan Keamanan


​Senada dengan Restu, Sukron Hadi, kader muda Nahdlatul Ulama lainnya, mempertanyakan efektivitas pengamanan dan komitmen daerah terhadap nilai-nilai yang dipegang.

​"Kami kembali mempertanyakan, kemana aparatur keamanan hari ini dan apa sikap yang akan diambil? Persoalan ini membuat leluhur kita menangis. Slogan 'Negeri Para Sai Batin dan Ulama' tidak menjadi kesepahaman yang sama di kalangan masyarakat kita karena nilai-nilai luhur tergerus oleh tontonan kekerasan," ujar Sukron Hadi.


​Panggilan untuk Sikap Tegas Pemerintah Daerah



​Keributan di Biha menjadi pengingat pahit bahwa budaya hiburan yang tidak terkontrol dapat merusak moral dan tatanan sosial. Para kader muda NU mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Pesisir Barat dan aparat keamanan untuk segera mengambil sikap tegas dan komprehensif. Ini 


termasuk:

​Evaluasi total terhadap izin keramaian dan pengawasan acara orgen tunggal.


​Penindakan hukum yang transparan terhadap pelaku keributan, tanpa memandang status.


​Penguatan peran Sai Batin dan Ulama dalam mengontrol dan memberikan edukasi moral kepada masyarakat, khususnya generasi muda.


​Kekerasan di acara hiburan harus dihentikan agar Pesisir Barat benar-benar dapat menghidupi dan menjunjung tinggi kehormatan identitasnya sebagai Negeri Para Sai Batin dan Ulama, bukan sebagai arena 'lelucon' yang memicu tangis dan keresahan (red) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Pages